Senin, 20 Mei 2013

Resep: indomi + susu

Sok-sokan posting resep, biar berasa wanita seutuhnya. Haha *padahal yang diposting resep beginian :P
Gara-gara blogwalking ke bebenyabubu.com beberapa waktu yang lalu nih, saya nemu satu-satunya resep di blog itu yang membuat saya gak berpikir panjang untuk mencobanya. Bahan-bahannya simpel banget, masaknya gak susah sama sekali (yaiyalah wong tinggal masak indomi, hahaha), dan kayaknya udah pasti enak! Katanya sih udah melegenda gitu indomi dimasak beginian. Tapi saya baru liat dan kepikiran untuk mencobanya.
Ah sumpah aneh gt ya nyebut ini resep. Berasa hebat banget guwe. Jadi mari kita sebut saja ini variasi memasak indomi. Haha
Bahan yang dipakai simpeeel banget, kayak masak indomi biasa lah, nih ya:
- indomi beserta bumbu (kemarin saya pakai yang ayam bawang, blom berani yg rasa lain, takut aneh :P)
- susu cair, saya pakai ultra full cream yang warna biru itu, sekotak 200ml itu bisa buat 2 porsi (saya emang lebih suka yg kuahnya gak terlalu banjir). Tapi kalo yang mau banyak kuah ya bisa 2/3 kotak lah yang dipake, soalnya kalo 1 kotak kayaknya kebanyakan ya.. *ribet*
- mentega dan keju secukupnya
Caranya juga gampang. Kayak kalo rebus indomi biasa, rebus mi dulu pake air biasa, terus panasin susu di tempat terpisah. Taroh semua bumbu sama mentega di mangkok, trus campur susu yang udah panas, aduk-aduk, masukin mi yang udah ditiriskan, aduk lagi, taburin keju parut, taraaaa jadi deeeh!!
Rasanya? Enaaak. Kayak kalo makan pasta carbonara gitu lho. Creamy dan ngeju gitu. Saya sih emang pecinta susu dan keju ya. Haha. Tapi serius deh, gak ada aneh2 nya sama sekali. Kan susunya plain ya, dicampur mentega sama keju ya nyatu aja. Blom lagi bumbu msg dari si indomi, beuuu makin deh tu ya, nagihhh!! :P
Besok-besok mau coba lagi ah, mungkin pake tambahan daging asap gitu makin enak kali ya. Kayak carbonara beneran..hihi
Buat kamu kamu yang doyan indomi, cobain deh sekali kali buat variasi. Gak bikin gendut kok ( kalo gak tiap hari makannya). Hahaha

Minggu, 19 Mei 2013

Tentang dia

Saya belajar banyak dari dia. Seorang pria yang sangat sayang keluarga, terutama ibunya. Tak harus menjadi lemah atau manja untuk melakukannya kan? Justru dia, dengan kekuatannya sebagai seorang pria, caranya menyayangi ibunya selalu membuat saya bangga.

Menjadi anak bungsu lelaki satu-satunya dan merantau pula, saya bangga mendengar dia bercerita, bagaimana dia selalu rindu memijat ibunya, bagaimana dia selalu menyediakan diri untuk mengantar ibunya kemanapun ketika dia pulang, bagaimana langsung segarnya si Ibu yang sakit ketika dia pulang.. Ah.. Ibu beruntung sekali.. Saya pun beruntung suatu saat akan menjadi bagian dari keluarga kalian. :)

Kata orang, "pria yang sayang sama ibunya, pasti juga akan sayang sama istri dan anak-anaknya".
Dan saya percaya. Aamiin. :)

Sabtu, 13 April 2013

Bukan klarifikasi

Jadi ceritanya kemarin itu, orang-orang seseksi saya pada heboh gara-gara ada yang nemu tulisan di sebuah blog satker, yang ditulis oleh salah seorang pegawainya. Inti tulisannya adalah, komplain dari si orang satker itu bahwa pelayanan oleh customer service di kantor kami sangat membingungkan. Fyi, jadi salah satu kerjaan inti di seksi saya itu adalah helpdesk terhadap permasalahan aplikasi-aplikasi yang dikembangkan di instansi kami, dan salah satu sarananya adalah layanan konsultasi melalui email.

Gak usahlah saya jelaskan secara detail isi blog dari satker itu. Gak perlu juga saya tautkan link nya secara langsung di blog ini. Emang biasa kan, semaksimal apapun kita merasa udah memberikan pelayanan, tetep aja ada pihak yang merasa kurang puas dengan itu. Yang membuat saya agak jengah, selain mengeluhkan jawaban kami yang dinilainya membingungkan (bahasa bijaknya sih sebenarnya tidak nyambung, antara maksud yang dia sampaikan dengan penafsiran kami dan jawaban yang kami sampaikan, terlepas dari pendapat si satker bahwa kapasitas otak SDM kementerian kami memang kurang :) ), ada beberapa hal tidak masuk akal lain yang tiba-tiba ditambahkan di tulisan itu, seolah menggiring opini publik tentang payahnya pelayanan di tempat kami.

Padahal dari kemarin gregetan pengen nanggepin, tapi gak usahlah ya. Kalau tulisan di blog itu ditujukan secara langsung kepada kami melalui surat atau email, rasanya baru perlu diklarifikasi. Atau siapa tau si penulis blog itu atas nama kebetulan mampir di blog ini, dan meminta kelanjutan klarifikasinya, baru saya lanjutkan. Haha *mustahil*
Btw, tadinya mau komen di blognya itu, tapi fasilitas komennya dinonaktifkan ternyata.

Sekali lagi, intinya adalah hati-hati berkomentar di media sosial, terlebih dengan membawa nama instansi. Jangan sampai pendapat subjektif dari seorang pegawai menjadi semacam pandangan resmi dari instansi itu, apalagi jika bahasa yang digunakan bisa dibilang tidak lulus sensor norma dan nilai. :P

Rabu, 13 Maret 2013

I'm back

Sekian lama menahan diri gak ngeblog, demi gak nulis yg aneh2, ujungnya malah kepala puyeng karena terlalu banyak yg dipikirin..
Kayak sekarang ini, sakiiit banget ini kepala. Kayak dijambak dari depan dan belakang rasanya.. ohmai, gimana sih caranya jadi orang yg simpel, selow, dan gak mikirin apa2? Capeek.. :(

Butuh tempat 'membuang' semua pikiran2 ini. Dan karena ini blog saya, mulai sekarang gak peduli lagi tulisannya geje atau apalah, curhat ya curhat ajaa. Daripada pusing sendirian mikirinnya.. hufh..

Sabtu, 12 Januari 2013

Kurang, lebih, atau cukup?

Sabtu sore, tiduran di kamar kosan, diiringi suara hujan. Nikmat yaaa..hehe. Padahal dari pagi juga kerjaannya tiduran. Beberapa bulan terakhir ini hampir tiap hari hujan emang. Ini bahas apa sih? Tidur apa hujan? Hahaha, preambule yg aneh.. -____-"

Yah intinya, saat hujan dan ada tempat berteduh seperti ini memang suatu nikmat tersendiri. Ada banyaaak sekali hal-hal kecil, yg kadang luput kita syukuri. Baru saat dia tidak ada, kita sadar betapa saat ada hal itu, rasanya mudah dan nikmat sekali.
Ah ngomong2 tentang nikmat, jadi ingat, beberapa hari kemarin saya pernah ngetwit gini kurang lebih, "merasa cukup atas rizki yg dikasih itu nikmat loh, karena orang yg selalu merasa kurang itu bisa jadi sangat mengerikan". Di sini saya mau nulis tentang versi agak panjang dari twit tersebut. *duduk tegak, benerin kacamata, muka serius*

Hahaha, gak usah serius2 gitu lah. Cuma mau cerita, jadi ada sedikit kejadian kecil yg kembali menyentil saya kemarin ini. Kejadian di kantor saya sendiri, tapi tak usahlah saya ceritakan detail kejadian dan latar belakangnya seperti apa. Sedikit gambaran, mungkin bagi sebagian orang, bekerja sebagai PNS di kantor ini merupakan suatu kebanggaan. Bagaimana tidak, dari segi materi, penghasilan pegawai2 kantor ini mungkin hampir bisa disandingkan dg kantor2 swasta tertentu. Remunerasi sudah bukan hal yg asing lagi, sehingga PNS bisa hidup cukup (atau mungkin lebih) tanpa mengambil jalan yg haram, tentu juga sudah biasa, alhamdulillah. Di luar sana, saya yakin banyak yg menginginkan posisi orang2 seperti di kantor saya ini. Tak usahlah patokannya adalah rumah dan mobil mewah. Bisa makan cukup setiap hari saja pasti sudah merupakan kemewahan bagi sebagian orang.

Harusnya kita bersyukur ya kan? Memang, kebutuhan dan keinginan itu gak akan ada habisnya. Gaji sekian, cuma cukup untuk ngontrak rumah. Gaji naik dikit, lumayan bisa nabung buat kpr rumah kecil. Nabung lagi, bisa kredit kendaraan, jadi gak perlu lagi berdesak-desakan di angkutan untuk berangkat ke kantor. Dan seterusnya. Lalu sampai kapan kebutuhan itu habis? Jawabannya cuma satu, saat nyawa kita juga habis diambil kembali oleh pemiliknya. Ya kan? Jadi seumur hidup juga yg namanya manusia itu gak akan pernah merasa cukup dan puas. Disinilah, ketika rasa cukup itu juga merupakan suatu nikmat. Sering saya melihat, di kantor atau di lingkungan manapun saya berada, ketika manusia-manusia yg selalu merasa kurang itu memang sangat mengerikan. Bahkan kejadian terakhir kemarin, sungguh membuat saya merinding. Ini bukan orang2 yg tiap harinya harus mengais sisa makanan di tong sampah untuk sekedar mengisi perut loh, tapi orang2 perlente yg tiap harinya berkantor di gedung bertingkat dan selalu merasa kenyang tiap hari. Bisa saja berbicara dan bertingkah seperti itu, demi tambahan materi yg didapat oleh orang lain, yg -untuk kali ini- mereka tidak mendapatkannya. Kalo niruin kata dosen mankeu saya sih, "ngerrriii.." *gaya pak imo*

Setiap orang, pasti pengen rezeki yg banyak. Saya juga. Di tiap doa saya, pasti saya selalu meminta itu. Dengan tambahan, juga diberikan rasa cukup dan berkah atas apapun yg dimiliki. Ibarat minum air laut yg makin lama malah makin haus, kalo gak pernah merasa cukup juga sebanyak apapun rezeki juga terasa kurang. Yg penting justru rasa nyaman dan tenang setelah memperolehnya. Banyak2 minta saja sama Allah, jangan lupa rezeki itu tak selalu berwujud uang. Kesehatan dan keluarga yg lengkap dan bahagia juga termasuk salah satunya kan? Hehehe.

*hanya tulisan geje dari seorang bocah ingusan, yg tinggal aja masih ngekos, belum ada tanggungan keluarga, apalagi tanggung jawab nyekolahin anak. Mohon maaf atas segala salah kata.. :)