Selasa, 02 September 2014

Running man!!

Jadi ceritanya udah sekitar 6 bulanan terakhir ini saya lagi kecanduan variety show Korea kayak yang ditulis jadi judul post ini. Udah telat banget siiih, orang mulai tayangnya udah dari tahun 2010. Teman-teman saya yang pecinta Korea juga udah lama heboh tentang Running Man ini. Tapi bagi saya yang terakhir nonton korea-koreaan itu pas jaman full house dkk, ini kayak semacam karma. Haha..


Awalnya sih gara-gara si Mas yang nyobain nonton. Trus katanya lucu banget sampe dia begadang buat nonton, sampe dia ngopi semua episode yang pas dia mulai nonton itu udah hampir mencapai 200 episode. Ngeliat itu kan saya mulai penasaran tapi masih agak males gitu, kirain tuh semacam boyband-boyband yg manalah susah ngapalin namanya trus mukanya sama semua itu. Tapi kok Mas yang ngakunya mirip orang korea bahkan cuma full house sebagai satu-satunya "tempat" dia ngeliatin orang Korea itu, bisa sampe ketagihan kayak gitu.


Nah gak berapa lama pas dia mulai suka Running Man itu, Mas mulai kuliah D4. Trus ada kejadian harddisknya rusak atau apalah gitu, jadi ilang semua file RM yang dia punya. Berhubung udah gak ngantor, jadi dia nitip pinjemin file RM sama anak kantor kita juga yang emang bandar korea banget (sebut saya Ayu.. haha). Sampe segitunya ya? Sampe gak tenang gitu dia kalau gak nonton. Yoweslah, si Ayu minjemin harddisknya melalui saya. Nah sebelum saya sempet ngasih ke Mas, penasaran lah saya, dan nyobain nonton dari episode pertama. Pikir saya kan yaudah sih paling berapa menit juga bosen. Gak nyambung juga kali becandaan di Korea sana. Gak berekspektasi lebih lah ya..


Mulai nonton, dan ternyata apa yang terjadi? Ngakak-ngakak lah saya nonton itu. Sampe penasaran ngabisin 1 episode, sampe gak sabar buat nonton episode berikutnya. Ngooook! Beneran karma iniiii.. Terus cerita ke Mas, dan disukurin sama dia katanya 10 episode pertama itu bakal bikin nagih! -,-"


Yaudah deh, abis itu kejadian saya juga ngopi semua episodenya, mulai apal semua membernya, sampe searching-searching tentang kehidupan asli mereka di luar RM, di kantor sama di kosan kerjaannya nge-RM mulu, sampe nularin jg ke temen-temen deket di ruangan. Huahahaha.. Yang bikin nagih itu, lucuu aja lhoo emang. Yang dulu kirain bakal garing atau gimana, ternyata malah bikin ngakak guling-guling. Tiap member punya karakter yang kuat dan bikin tiap episodenya itu menarik. Saya sukaa banget Monday Couple sama MC utamanya, Yoo Jae Suk. Ntar kapan-kapan bikin postingan sendiri tentang mereka ah. Bintang tamunya sih saya tetep gak ngerti itu siapa aja. Haha.. Tapi dari situ saya jadi tau dikit-dikit tentang artis Korea ataupun idol grup gitu yang sering jadi bintang tamu di RM. Akankah ini potensi kecanduan berikutnya?Semoga tidaaak!! Cukup RM ini aja yaaa.. >.<

Kamis, 07 Agustus 2014

Latepost: cerita tentang Pak Jonan

Beberapa minggu sebelum puasa, kantor saya mengadakan sebuah acara yang pembicaranya adalah Bapak Ignasius Jonan selaku Dirut PT KAI yang dalam masa mudik lebaran ini namanya semakin melambung (yang gak ngerti silakan gugling :P). Pada kesempatan itu, Pak Jonan didampingi jajaran direksi PT KAI bercerita mengenai perubahan yang beliau lakukan di salah satu BUMN terbesar di Indonesia tersebut.

Kita semua ngerti lah ya betapa besar perubahan yang terjadi di PT KAI di era kepemimpinan Pak Jonan. Mulai dari kualitas kereta jarak jauh yang semakin meningkat dengan ditiadakannya tiket tanpa tempat duduk, larangan merokok dan penjual asongan, AC di hampir semua tingkatan kereta, penjualan tiket secara online, dan masih banyak lagi. Belum lagi penataan stasiun-stasiun terutama di Jabodetabek yang kita tahu sendiri sebelumnya sekumuh apa, juga pembenahan serta penghargaan di kalangan pegawai sampai direksinya. Masih banyak lah prestasi yang ditorehkan PT KAI belakangan ini, yang tentunya tidak lepas dari peran besar sang direktur utama. Saya gak akan bahas secara detail karena kayaknya semua orang juga sudah tau hal ini.

Yang mungkin tidak diketahui banyak orang dan menjadikan saya makin kagum sama Pak Jonan adalah, bahwa beliau ini mengakui punya keterbatasan. Beliau sadar bahwa beliau adalah orang biasa yang memimpin suatu badan usaha yang pasti memiliki keterbatasan. Jadi di balik semua programnya, beliau sangat realistis akan beberapa hal yang beliau rasa itu gak mungkin sehingga beliau gak pernah berjanji muluk-muluk tentang hal tersebut. Misalnya terkait pembenahan KRL, yang pasti para penggunanya menuntut pelayanan dan kenyamanan yang semakin baik. Apa kata beliau? "KRL itu harga tiketnya paling jauh cuma 3500 mau minta apa? Ya dapetnya cuma jaminan selamet tok, gak usah berharap nyaman", katanya sambil bercanda. Kesel gak dengernya? Haha.. saya sih iya. Tapi itu realita lho. Yah walaupun di negara tetangga dengan tiket seharga itu sudah bisa naik kereta lokal dengan nyaman. Laba dari commuter line itu masih sangat kecil apalagi dibandingkan dengan kereta jarak jauh. Belum lagi penumpangnya yang terdiri dari semua golongan mulai dari pegawai sampai pedagang pasar. Tentu menaikkan harga demi meningkatnya dana yang bisa digunakan untuk pembenahan bukan perkara mudah. Pak Jonan sadar dengan status PT KAI sebagai BUMN yang harus menghasilkan laba, maka ia realistis dengan pembenahan lebih banyak pada sektor yang memang labanya lebih tinggi.

Tentu gak semua perkataan Pak Jonan bisa saya setujui dan terima dengan lapang dada. Masih aja mbatin, kok gitu sih pak, blablabla. Rasa kurang puas juga masih ada di sana-sini. Tapi sebagai orang yang sudah 4 tahun terakhir ini setia menjadi pengguna layanan kereta, saya merasakan betul perubahan yang terjadi, dan saya salut dengan Pak Jonan yang mampu mengawal perubahan tersebut. Seperti pernah saya tulis di akun Path, beliau ini salah satu tokoh yang saya lihat dan rasakan sendiri hasil kerjanya. Orang-orang seperti beliaulah yang menjadi harapan kita bahwa Indonesia gak kekurangan tokoh keren kok untuk membangunnya. Jangan lupa masih ada Bu Risma, Pak Ridwan Kamil, dll meskipun untuk beliau-beliau saya belum merasakan langsung karena memang tidak berada di wilayah yang sama.

Saya gak mau terlalu kagum dan taklid buta sama seorang tokoh manapun. Walau bagaimana beliau juga manusia yang mungkin aja bisa salah. Tetapi selama beliau berbuat kebaikan gak ada salahnya kan kalo kita teladani? Ah, semoga Pak Jonan tetap istiqomah dalam kebaikan ya Pak. Semoga semua program-programnya terlaksana dengan baik dan semakin baik, di manapun itu.


Ps.
Gosipnya Bapak banyak diusulkan jadi MenHub ya Pak? Pesen saya sekarang cuma satu, kalau nanti jadi, tolong tinjau kembali (kalau perlu cabut aja) ijin operasi L**N Air ya pak, udah gak ada bener-benernya maskapai itu. Hih!  #MasihSensiSamaLion

Jumat, 28 Maret 2014

(sok) serius

Kemarin saya baca cuplikan artikel yang dishare salah seorang list following di twitter. Saya gak tau persis itu cuplikaan artikel apa dan ditulisnya kapan, yang jelas dalam cuplikan itu dikutip berita tentang penutupan 4 penjara di Swedia karena kekurangan penghuni. Yang membuat miris, penutupan penjara itu kemudian dihubungkan dengan warga di negara tersebut yang kebanyakan atheis (tidak beragama), dan disebutkan bahwa agama ternyata tidak menjamin moralitas yang tinggi bagi para pemeluknya.

Artikel ini mengingatkan saya bahwa belakangan ini memang sering sekali saya membaca opini sejenis. Bahwa agama tidak menjamin moralitas, karena banyak pemeluk agama (apapun itu) yang tetap melakukan kejahatan, ntah itu korupsi, membunuh, merampok, dan lainnya. Kemudian saya sadar, gerakan kampanye "anti-agama" ini, terlebih di Indonesia, memang semakin digencarkan dengan berbagai cara, termasuk salah satunya adalah dengan penyebaran opini di media massa. Ehm, ilmu saya tidak sampai kepada apa itu teori di baliknya atau misi apa yang sedang diusung. Yang jelas, dalam pandangan awam saya, gerakan itu menargetkan agar manusia-manusia yang selama ini memegang teguh ajaran agamanya kemudian ragu dan menyadari bahwa memang tidak ada hubungan antara agama (sekali lagi, apapun itu) dan moral. Bahwa tidak perlu menjadi seorang pemeluk agama untuk menjadi orang baik dan bermoral.

Okelah, beragama itu termasuk hak dasar manusia yang tidak boleh dicampuri oleh manusia lain. Manusia memiliki kebebasan untuk memeluk agama apapun, termasuk untuk tidak beragama. Tapi yang membuat sedih adalah ketika banyak orang yang selama ini beragama justru kemudian ragu akan ajaran agamanya dan memilih untuk beranggapan bahwa pilihan terbaik untuk menjadi orang baik justru dengan memisahkan agama dari kehidupannya sehari-hari. Oh tolonglah, saya rasa tidak ada agama apapun di dunia ini yang mengajarkan pemeluknya untuk menjadi orang jahat. Ketika seseorang melakukan kejahatan, justru perlu kita pertanyakan lagi bagaimana ketika itu ia tidak mengingat apa yang diajarkan dalam kitab sucinya, bahwa perbuatan yang ia lakukan tersebut sebenarnya terlarang. Saya masih sangat percaya, jika semua orang mengamalkan ajaran agamanya dengan sungguh-sungguh sesuai tuntunan yang ada, tentu tingkat kejahatan bisa menurun dengan drastis.

Sekali lagi, agama itu sempurna. Keterbatasan akal dan sifat pemeluknya lah yang terkadang mencoreng kesempurnaan itu. Susaaah sekali memang menjadi pemeluk agama yang baik. Bahkan seseorang yang terlihat dari luar sudah sangat beriman pun, tidak bisa kita pungkiri ada satu-dua sifat bawaan yang seolah-olah bertentangan dengan ajaran agamanya. Saya apalagi, masih sangaaaat jauh dari tingkatan yang bisa dibilang pemeluk agama yang baik. Tapi itu tidak harus membuat kita menyerah kan? Setidaknya ada motivasi bagi kita untuk terus mempelajari apa yang diajarkan, sehingga pada akhirnya kita bisa mencapai tingkatan terbaik itu.
Yuk sama-sama belajar.. :)




Minggu, 09 Februari 2014

Hikmah Perjalanan

Kembali pulang, setelah 11 hari perjalanan penuh cerita. Sungguh deh, dari tawa, tangis, kesal, bahagia, sehat, sakit, takjub, miris, semuanya ada. Tapi cerita lengkapnya di post terpisah ya, mungkin ada mungkin tidak tergantung mood nanti.. haha. Abisnya panjang banget kayaknya ceritanya..

Saya mau cerita dikiit aja. Tentang salah satu hikmah perjalanan yg sangat membekas bagi saya. Betapa selama ini saya -dan kita kebanyakan- memang hidup di zona nyaman. Dekat dengan keluarga, dengan lingkungan yang nyaman, dan (alhamdulillah) menganut agama yang sama dengan mayoritas penduduk di negara ini sehingga amat sangat mudah menjalankan kewajiban-kewajiban agama yang saya anut. Sebelas hari menjadi musafir dan minoritas, sungguh mengajarkan saya bahwa dunia luar itu sangat luas dan tidak selalu kenyamanan yang kita inginkan dapat kita temui. Padahal ya masih di Asia.

Ternyata begitu rasanya, bingung menjelaskan padanan kata yang tepat untuk 'ibadah' ketika menanyakannya kepada penduduk di negara komunis, yang mereka bahkan tidak tau agama itu apa. Mendapat penolakan resepsionis hotel ketika waktu menginap sudah habis dan ingin meminjam ruangan selama beberapa menit, sekedar menunaikan kewajiban saat waktu sholat tiba. Sembunyi-sembunyi melakukan sholat di lorong depan kamar di lantai paling atas pun jadi solusi. Atau ketika dapat izin dan hanya berupa ruangan gudang kotor, yang bahkan susah untuk bersujud dengan sempurna. Sholat di perjalanan hampir setiap hari. Begitu pula ketika sekuat tenaga mencari makanan halal walaupun kemudian yang ada tak sesuai selera, ketika di kanan kiri penjual makanan menawarkan babi. Dan di pelosok negara-negara itu, ketika mendapati masjid yang berdiri megah dengan suara azan yang mengalun indah atau penduduk yang menyapa dengan kata "i'm moslem, too", bahagianya tak terkira. Hikmah memakai jilbab, agar kamu mudah dikenali, memang benar rupanya.

Lha terus? Nyesel? Kapok? Enggak lah. Justru saya bersyukur diberi kesempatan ngerasain perjalanan dan pengalaman itu. Saya belajar, bahwa dunia itu luas. Bahwa tekad dan komitmen sebagai pemeluk suatu agama itu tak hanya dirayakan saat mudah, namun juga diuji saat susah. Seberapa kuat kita menggigit tali iman itu, saat ibadah tak lagi mudah. Toh ini belum seberapa. Baru sebelas hari, rame-rame pula.
Alhamdulillah, satu alasan lagi untuk bersyukur karena dilahirkan dan tinggal di Indonesia.. hehe

* Begini kok punya cita-cita menuntut ilmu di Eropa atau Amerika, Fa..

Jumat, 13 Desember 2013

Proses membuat paspor di kantor imigrasi Jakarta Timur

Mau sedikit cerita pengalaman waktu buat paspor kemaren yaa. Sebenernya dari dulu-dulu saya udah pengen tuh buat, cuma belom ada alasan jadinya males. Haha.. Nah pas sekarang ada alasan, jadi capcus deh buat.

Di Jakarta, ada beberapa kantor imigrasi (kanim) tempat kita bisa mengajukan permohonan pembuatan paspor. Namun untuk kanim Jakarta Pusat (yang terdekat dari kantor saya) dan kanim Jakarta Barat ternyata tidak melayani pembuatan paspor baru, hanya perpanjangan paspor lama. Jadi kalo mau buat baru, kita bisa dateng ke kanim Jakarta Timur atau Jakarta Utara. Kemaren ini saya milih datengnya ke kanim Jakarta Timur. Lokasi kantornya persis di sebelah komplek lapas Cipinang. Oya, kemaren saya sempet nyasar gara-gara ngikutin petunjuk di google maps -,-". Jadi kalo nyari di maps, nyarinya lapas Cipinang aja udah, ntar di sebelahnya ada kantor imigrasi, persis depan halte busway.

Ada beberapa hal yang harus dipersiapkan sebelum datang ke kanim, di antaranya:
1. Identitas diri berupa ktp dan fotokopi bagian depan belakangnya dalam 1 halaman A4 (inget, jangan dibolak balik).
2. Akte kelahiran dan fotokopinya (kalo gak salah ini bisa diganti dg keterangan identitas lain, seperti surat nikah atau ijazah).
3. Kartu keluarga dan fotokopinya.
4. Surat keterangan/rekomendasi dari tempat kerja, jika kamu PNS atau TNI. Atau surat keterangan dari sekolah/kampus jika kamu pelajar/mahasiswa.
5. Materei 6ribu.

Itu berkas wajib dan minimal yang harus ada (sepengalaman saya kemarin), untuk pembuatan paspor baru bagi orang dewasa. Keterangan lebih lanjut tentang persyaratannya bisa dilihat di website dirjen imigrasi, karena banyak banget dan saya juga gak afal..haha.
Ohya, jangan lupa untuk nyimpen backup berupa fotokopi lebih atau scanan, buat jaga-jaga aja sih. Nah semua dokumen itu harus valid ya, misalnya KK atau akte ya harus ada ttd dan stempel pejabat pembuatnya. Teman saya kemaren ada yang KK nya gak ada ttd dan stempel jadinya ditolak pas di loketnya.

Nah kalo semua berkas udah lengkap, saatnya kita datang ke kantor imigrasi. Fyi lagi, sekarang ini sebenarnya udah ada jalur pembuatan paspor secara online. Jadi kita akan mengisi formulir dan mengunggah scanan berkas melalui website. Tapi ntah kenapa pas saya coba kemaren, website nya sama sekali gak kebuka. Kalo pake online ini, lumayan mempersingkat waktu dan proses pembuatan paspor dibanding kalo kita pake cara manual (dari awal langsung datang ke kanim).
Ada beberapa tahapan yang harus kita lalui, kemarin itu saya 3 kali bolak balik. Kayak gini nih ceritanya:

3 Desember 2013
Ini pertama kali saya datang ke imigrasi. Saya tiba di lokasi sekitar jam 7 pagi dan kaget karena halaman depan kantornya sudah penuh orang. Hahaa.. Jadi kan imigrasi itu pintu loby nya baru dibuka sekitar jam 7, tapi ternyata antrian sudah dimulai bahkan dari jam 5 atau jam 6. -,-"
Antriannya itu berupa absen manual, dimana kita harus ngisi nama kita di kertas yang sudah disiapkan oleh pak satpam. Nomor di absen manual itu yang akan menentukan antrian di dalam di mana kita harus menyerahkan berkas. Tapiii, untuk mendapat antrian penyerahan berkas itu, kita harus udah punya formulir yang diisi lengkap. Sementara loket pengambilan formulirnya baru dibuka jam 7.30. Doeeng!! Jadi nomor antrian ini akan efektif kalau kamu sudah dapat formulir melalui proses online, atau sudah mendapatkan formulir di hari sebelumnya.

Jam 7 pintu loby dibuka, dan semua orang langsung menyerbu ke dalam. Di meja resepsionis, akan mulai dipanggil nama sesuai yang sudah tertulis di absen manual. Sementara yang belum punya formulir, langsung aja masuk ke sebelah kiri dan menunggu pintu kedua tempat loket formulir dibuka pada jam 7.30. Karena saya belum punya formulir, saya pun ikut antri lagi menunggu pintu kedua. See? Kalopun kamu udah dapet nomor awal pas absen manual, karena kamu harus antri dulu di loket formulir, jadi kemungkinan besar antrian manual kamu akan kelewat dan harus antri dari belakang lagi.

Jam 7.30 pintu kedua dibuka, langsung antri ke loket formulir. Pastikan semua fotokopi berkas kamu sudah lengkap, karena walaupun di sebelah loket ini ada tempat fotokopi tapi dengan sudah bawa fotokopi lengkap dari awal sudah bisa menghemat waktu untuk langsung antri. Di loket ini kelengkapan berkas kamu akan diperiksa dan akan dikasih 1 formulir dan 1 surat pernyataan yang harus diisi secara GRATIS (kemaren saya malu karena nanya bayar berapa gara2 baca di blog orang katanya bayar 5 ribu jadi saya siap2 aja mau bayar. Kan kesannya jadi kayak mau nyogok gitu kan ya? Haha). Ohya kalo lupa bawa materei, di loket ini juga kamu bisa beli materei. Disarankan untuk bawa bolpen sendiri, agar kamu bisa langsung mengisi sambil antri di proses selanjutnya.

Sambil isi formulir langsung aja antri di bagian depan yang tadi ( tempat resepsionis)  untuk dapet nomer antrian. Kemaren saya miskom di bagian ini sehingga terlena (sempat2nya naik ke lantai 2 dulu!!), alhasil pas ambil antrian dapetnya nomer 124 :raung
Kenapa harus sambil isi formulir? karena kayak yg saya jelasin di awal, buat dapet nomer antrian, kamu harus nunjukin berkas lengkap dan formulir yg sudah selesai diisi.
Kalo udah dapet nomor, langsung cus ke lantai 2, cari loket 1-4.
Ups lupa, nomor antrian ini dibatasi sampe nomor 250 (?) atau sampe jam 11 siang tergantung mana yang tercapai lebih dulu. Jadi kalopun kamu pasrah dateng siang, pastiin jangan siang2 banget kecuali kamu rela balik lagi sambil gigit jari karena gak dapet nomer.

Di lantai 2, sebelum ke loket, kamu akan dipanggil sesuai nomer antrian sama bapak petugas di meja pojokan (bukan loket) untuk verifikasi berkas (lagi!) dan nuker nomor antrian tadi pake kertas kayak antri di bank gitu. Verifikasi berkali kali ini kayaknya buat menghindari calo sih ya. Gakpapa deh.
Abis itu silakan tunggu nomor kamu dipanggil buat nyerahin berkas di loket 1-4 atau loket 5 buat yang daftar online.
Nunggunya ini lamaaaaa banget cuy. 1 orang ada kayaknya sekitar 5 menit di loket. Saya aja nomor 124 baru dipanggil menjelang jam 12, dan selesai jam 12 siang teng.
Kalo udah dari loket, kamu akan diberi berkas buat bayar biaya paspor ke bank, beserta keterangan tanggal berapa kamu harus balik lagi untuk foto dan wawancara. Kedatangan selanjutnya biasanya 3 hari kerja setelah berkas diserahkan. Udah deh, kalo udah dapet itu kamu udah bisa pulang.

6 Desember 2013.
Sesuai waktu yang tertulis di berkas pembayaran, hari ini saya harus datang lagi untuk melakukan foto dan wawancara. Sebelum hari ini kamu udah harus bayar ke BNI ya, biaya paspor+foto adalah 255 ribu rupiah. Bukti pembayaran plus kertas yg dikasih dari kedatangan pertama dibawa lagi, serta semua dokumen asli dari fotokopian yang udah diserahkan sebelumnya juga HARUS dibawa.
Saya kembali datang jam 7 kurang, dan masih aja antrian ramee. Haha
Karena saya wawancara, maka gak usah ikut antri ngambil nomor di bawah lagi. Pas jam 7 pintu loby dibuka, langsung masuk aja tapi ikut antrian yg ke arah kanan. Sebenernya lantai 2 tempat loket 1-5, trus loket 6 buat ambil antrian foto, dan loket 9-10 tempat foto dan wawancara itu searea. Cuma biar antriannya gak nyampur kali ya jalan masuknya dibedain.

Belajar dari pengalaman kemaren, pas pintu dibuka saya langsung melesat masuk sampai antrian pintu dibuka yg baru dibuka jam 7.30. Di sini udah lumayan nih, dapet yg depan2. Jadi pas 7.30, langsung lariii naik tangga menuju loket 6. Hahaha, berasa perjuangan banget deh. Nyampe loket 6, dapet antrian nomer 3 yg berubah menjadi nomer 2 karena mas2 di depan saya disuruh minggir dulu sama petugasnya (gaktau kenapa). Di sini dikasih antrian terus langsung ke loket 9 buat antri foto. Udah deh ikutin aja tuh foto sama pengambilan sidik jari, dilanjut wawancara.
Nah pas wawancara kamu pasti diminta ngeliatin berkas aslinya, terus ditanya mau kemana, dan pertanyaan lain terserah petugasnya. Saya kebetulan dapet bapak2 yg agak jutek tapi dia malah gak nanya macem2. Kayaknya cuma 2-3 menit doang wawancara sama dia (malah lebih lama pas ditanya2 sama ibu di loket 4 waktu nyerahin berkas). Haha..
Udah selesai, ntar kamu dikasih bukti pembayaran pnbp yg dipake saat ngambil paspornya 3 hari kerja kemudian (kata petugas yg lain, buat jaga2 datengnya 4 hari kerja aja). Karena saya dapet antrian depan, proses kali ini alhamdulillah cepet banget. Jam 9 deh udah selesai, padahal udah siap2 bawa novel bawa bekal segala. -,-"

11 Desember 2013.
Proses terakhir, tinggal ambil paspornya. Ini minimal 3 hari kerja setelah wawancara dan maksimal 1 bulan kalo gak salah. Begitu masuk, ikutin antrian sebelah kanan kayak waktu foto, tapi masuknya ke loket di samping tangga yang ada tulisan pengambilan pasport. Ntar bukti yang dikasih pas wawancara dicoblosin ke paku gitu sebagai urutan antriannya (masih aja rebutan lho pas masukin :hammer). Kalo udah tiba gilirannya, bakal dipanggil, tanda tangan beberapa kali, dan taraaa paspor kamu udah bisa dibawa pulang.
Oya, semua loket kecuali tempat ambil antrian di bawah dan tempat ambil formulir itu baru buka jam 8. Jadi kamu pasti bakal nunggu bentar tuh walopun dapet antrian nomer awal.

Fyuuuh, panjang banget ya tulisannya, haha. Emang gitu, proses aslinya juga panjang dan capek. Harusnya di depan gedung tuh dikasih rute dan denah pemohon paspor harus kemana dulu dan kemana aja. Saya aja (dan banyak pemohon lain) kebingungan pas pertama dateng harus kemana dulu dan di bagian mana, ditambah emang rame banget! Jadi kalo bingung ya kira bakal makin bingung.

Tapi di balik itu, saya salut juga sama petugas imigrasi yang memastikan semua dokumen harus valid dan anti calo. Pemohon harus datang sendiri dari awal atau memakai surat kuasa jika diwakilkan. Transparansi biaya juga jelas banget bahwa kita cuma bayar 255 ribu dan bayarnya pun ke bank. Di kanim yang lain di Jakarta katanya bahkan udah bisa sehari langsung jadi. Semoga semuanya juga segera gitu ya, biar gak capek bolak balik. Hehe

Selamat membuat paspooor!! :D